Go to content Go to navigation Go to search

"Celotehan Rindu"
16 Agustus 2010

Ya Rabb Tuhan Semesta Alam...

Saat Dia Jauh Disana...
Tatapan Rinduku Membabi Buta...
Sedangkan Rindu Ini, Takkan Pernah Ku Sesali...
Ku Tahu...
>>>>>>>>>>>>
Terapi Kerinduan Membahana Lewati Malam...
Rindu Ini Resapi Jiwa Yang Sedang Galau...
Betapa Serpihan Malam, Sunyi Tanpa Dering Suaramu Dan Kehadiranmu...
Ouh Desiran Angin Malam...???
>>>>>>>>>>>>
Kenapa Gelisah Selalu Selimuti Dinding Ruang Hati Ini...
Kegelisahanku Adalah Rinduku...
Barapa Lama Lagi Ku Harus Menunggu Karna Rinduuu...
Tiap Di Keheningan Malam, Tak Pelak Senyumanmu Sapa Tiap Sudut Mata...
>>>>>>>>>>
Walau Terpaan Gemuruh Ombak, Halau...!!!
Rasa Ini Akan Bersemayam Dalam Hati...
Karna Rasa Rindu, Buwatku Merana...
>>>>>>>>>>>
Ya Merana...!!!
Merana Kapan Kau Kembali, Hinggap Dalam Dekapanku...
Wahai Dzhat Pemilik Jiwa...
Kembalikanlah Rindu Dan Sayangku Padanya...
 
Ramadhan 13 Agustus, 2010.
 

Oleh : Gusfa

 



Pendidikan Moralitas Suatu Keniscayaan
27 Mei 2010

Sumber keunikan terbesar al-Qur’an adalah mengetuk hati yang beku dan berkarat. Sehingga terdoronglah pintu pikiran lalu terbukalah pintu hidayah. Pesan al-Qur’an mengajak umat manusia agar senantiasa responsif, sensitif kepada kebaikan dengan mengaktifkan rasio kita. Yaitu melalui terbukanya tabir tersebut, Pesan itu dapat masuk ke lubuk hati dan akal pikiran, sekiranya kita sedikit mau memperdulikan dan mau memperhatikannya.

Shahabat Umar bin al-Khatab Ra berkata: "Kalaulah aku tidak takut kebaikanku berkurang, aku akan mengikuti pola kehidupan kalian yang enak, namun aku telah mendengar Allah SWT menjelaskan tentang suatu kaum.

Di sebutlah dalam (QS: Al-Isro: 9) yang artinya “Al-Quran ini sesungguhnya menunjuki kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang melakukan perbuatan baik, bahwa untuk mereka balasan yang besar”. Begitulah kehidupan dan akhlak mereka para salafu ashalih, lain dengan kehidupan kita sekarang ini, apalagi dalam konteks yang lebih makro.

Sepenggal ayat diatas adalah framework, metode, ciri bagaimana al-Qur’an ikut andil membimbing manusia kepada jalan yang di ridhoi Allah Swt dan hanif. Tentunya sesuai kepada tabiat kejadian dari beragam konsumtif kehidupanya. Dunia harus di kejar, bukan dilamunin kata pujangga. Namun alam ini hanyalah media menuju ke alam lain yaitu akherat. Ayat suci Al-Qur’an berisi himbauan untuk tidak terlena dengan glamornya dunia. Bagaimanapun sengsara atau bahagianya kehidupan seseorang. Sekalipun dia merasa disisihkan, tetapi sejatinya tidaklah dilepaskan, dibiarkan sendiri menelanjangi komplektisitas kehidupan ini.

Tumpuan pluralitas umat manusia salah satunya tercipta oleh iklim pendidikan yang menyehatkan baik jasmani maupun rohaninya. Tulisan Shobahusurur “Malas dan Lalai Perspektif al-Qur’an dan Sunnah menarik Untuk disimak. Beliau menyinggung pendekatan spiritualtas asketis dalam al-Qur’an dan Sunnah, ia beriktisar bahwa al-Qur’an mengelompokkan orang malas dan lalai sebagai orang yang zalim, kufur nikmat, lupa diri, dan munafik. Untuk itu, kemalasan harus di sembuhkan dengan cara-cara internal spiritual dan eksternal rasional.

Disadari atau tidak, hampir semua orang, dengan kadar berbeda, pernah mengalami penyakit mental ini. Mulai dari anak usia belia TK, remaja, SD.,sampai menginjak dewasa yaitu, SMP, SMA sampai tingkat manula pun mereka ikut bersaing menonjolkan diri mereka dalam enggananya serius dalam proses belajar (Baca Malas). Saya Teringat oleh ungkapanya Netty Hartati “Islam dan Psikologi” Belajar bukan saja melibatkan penguasaan kemampuan akademik semata, tetapi melibatkan emosi, interaksi social, dan perkembangan kepribadian. Sementara Morgan dikutip dari Abdul Rahman dan Muhibbin Abdul Wahhab, “Psikologi dalam Perspektif Islam” mengemukakan, belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.

Dengan demikian, kata kunci dari learning adalah chang (perubahan), baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Perubahan itu ada karena individu melakukan sejumlah latihan serta pengalaman. Memang belajar adalah aktifitas paling kompleks dan tidak bisa diamati secara instant. Ada siswa yang keliatanya konsentrasi, khusu’ tak sedikitpun matanya tengok kanan tengok kiri, atau munkin matapun tidak sempat berkedip ketika transfer knouwlege, tetapi setelah di beri beberapa pertanyaan, dia tidak mengerti dan tidak paham yang baru disampaikan gurunya. Maka penulis berasumsi sesungguhnya ia belum atau tidak di katakan belajar.

Dimanakah kekeliruan dalam kegiatan pembelajaran tersebut, gurunya ataukah muridnya yang tidak paham dengan materi yang di ampunya..?. Dari diskursus tersebut kiranya kita tidak perlu menyalahkan keduanya, kita setidaknya intropeksi, evaluasi kemudian belajar. Bahwa pemahaman, metodologi, baik tata ruang kelas, kebersihan maupun kerapian atau biasa di sebut dengan ‘classical conditioning’ yaitu sebuah teori tentang penciptakan reflek baru. Tak kalah penting lainya menurut Psikiater Niken Iriani adalah fasilitas sekolah juga sangat menentukkan prestasi anak didiknya selain peran orang tua. Tapi itu bukanlah menjadi sebuah ukuran mutlak yang harus segera di amputasi. Makanya perhatian, loyalitas dalam sebuah institusi dunia pendidikan serta keikhlasan guru dalam mentranfer ilmu kepada peserta didiknya sangat signifikan.

Hasil UAN-pun akan memuaskan bila interaksi guru dengan murid selalu harmonis tidak egoistik. Banyak contoh terkait fenomena tersebut yang justru terjebak dalam amunisi yang tidak sehat. Diantaranya bagaimana citra sekolah pada tahun ini 2010 di beberapa daerah missal NTB, Jayapura, sebagian di jawa tengah Cilacap Dll, buruk akibat Nilai Uan yang jeblok, tidak mencapai nilai standar pemerintah. Padahal menurut analisa, penelusuran ahli pendidikan, kelulusan bukanlah semata mata di ukur dari segelintir nilai, tapi bagaimana anak didik tersebut di bekali dengan sangu pengetahuan agama, akhlak, dan mental. Agar kelak di masa yang akan datang dia sukses, selamat menjalanin puberitas bahtera kehidupanya baik dunia dan akheratnya.

Itulah mengapa dikatakatan oleh Imam al-Ghazali bahwa pendidikan anak, intinya adalah membentuk manusia beriman dan bertakwa, memiliki moral dan budi pekerti yang tinggi yaitu dengan menyeimbangkan antara aspek fikir dan zikir secara bersama-sama, sekiranya di kontektualisasikan ke wilayah alam pendidikan nasional kita Indonesia, ada tiga titik singgung; 1) Aspek keilmuan, 2), Aspek kerohanian, dan 3), Aspek ketuhanan. (Zainuddun, dkk. Seluk beluk Pendidikan dari Al-Ghazali).

Dari paparan tersebut, dapat di simpulkan bahwa, mengingat tujuan penciptaan manusia sarat dengan nuansa moral, maka moralitas merupakan tujuan hakiki pendidkan Islam, sehingga idealitas kependidikan yang akan menjadi ideologi kependidikan mesti menyentuh aspek moralitas. Juga prilaku moral Islam tidak terlepas dari metafisis ke Ilahia-an dalam rangka mewujudkan fungsionalitas manusia sebagai Khalifah fil Ardh. oleh karenya kosekuensi terhadap idealitas kependidikan Islam mesti pula terkait dengan konsep Tauhid baik dalam tataran ideologis maupun dalam praktik kependidikannya.

Untuk itu pengenalan akan konsep amar ma’ruf dan nahi munkar perlu di wujudkan di institusi pendidikan, bukan saja dipesantren modern maupun tradisional yang 100% berbasis ilmu keagaaman, juga umum, tapi institusi di bawah payung pemerintah juga perlu di monitoring dan diberlakukan sama agar tidak terjadi "penyelewengan kepentingan"… Wallaahu al-Hadi Ila Shawab.

Gusfa..CIOS,
26, April 2010.

Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd
19 Maret 2010

Penyelenggaranya, Jaringan Islam Liberal (JIL) dan International Center for Islam and Pluralism (ICIP), menghadirkan Nasr Hamid Abu Zayd sebagai pembicara utama. Acara tersebut dilaporkan oleh media masa seperti Suara Merdeka, Media Indonesia, dan lain-lain. Mungkin banyak yang mengira gema pemikiran Abu Zayd terbatas dilingkungan cendekiawan dan mahasiswa yang menekuni studi Islam. Padahal, tidak sedikit kaum terpelajar lain yang diam-diam menaruh minat dan mengamati perkembangan kajian pemikiran Islam di tanah air maupun di luar negeri. Misalnya Nasir (bukan nama sebenarnya), dosen teknik mesin yang kini sedang menyelesaikan program doktornya di RWTH Aachen, dan Sumitro (juga nama samaran), mahasiswa pascasarjana di universitas Dortmund, Jerman. Mereka resah, setelah membaca artikel tentang Abu Zayd dan pikiran-pikirannya. Mereka ingin dapat jawaban segera, bagaimana, mengapa, apa maunya Abu Zayd dengan gagasan-gagasannya itu. Mereka meminta saya untuk memberikan tanggapan atas apa yang mereka baca di media masa.

Nama Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual asal Mesir yang ‘kabur’ ke Belanda dan kini mengajar di universitas Leiden itu, pertama kali saya dengar dari Profesor Arif Nayed, seorang pakar hermeneutika yang pernah menjadi guru besar tamu di ISTAC Malaysia, sekitar tujuh tahun yang lalu. Perkembangan kasusnya saya ikuti dari liputan media dan laporan jurnal. Misalnya, lewat artikel Stefan Wild, “Die andere Seite des Textes: Nasr Hamid Abu Zaid und der Koran” dalam jurnal die Welt des Islam, no.33 (1993), hlm. 256-261, tulisan Navid Kermani, “Die Affaere Abu Zayd: Eine Kritik an religioesen Diskurs und ihre Folgen” dalam jurnal Orient, no.35 (1994), hlm. 25-49, dan Charles Hirschkind, “Heresy or Hermeneutics: The Case of Nasr Hamid Abu Zayd” dalam American Journal of Islamic Social Sciences (AJISS) vol.12, no.4 (1995).

 

Terus-terang saya tidak begitu tertarik oleh teori dan ide-idenya mengenai analisis wacana, kritik teks, apalagi hermeneutika. Sebabnya, saya melihat apa yang dia lontarkan kebanyakan –untuk tidak mengatakan seluruhnya– adalah gagasan-gagasan ‘nyleneh’ yang diimpor dari tradisi pemikiran dan pengalaman intelektual masyarakat Barat, yang notabene sekuler dan suka mengolok-olok dan mengutak-atik agama (ittakhadhuu diinahum huzuwa wa la’iba). Kita tidak tahu pasti apa motif-motifnya dan apa tujuan Nasr Hamid Abu Zayd sebenarnya. Itu di luar kemampuan dan kewenangan kita; hanya Tuhan dan dia sendiri yang tahu. Namun berdasarkan tulisan-tulisan dan statement-nya, kita (khususnya para ulama dan kalangan spesialis kajian Islam) berhak dan berkewajiban memberikan penilaian (benar atau salah), menentukan sikap (menerima atau menolak), mengambil posisi (membela atau menghukum), dan menyatakan itu semua secara kritis dan ilmiah, adil dan tegas. Tidak boleh diam, masa bodoh, pura-pura tidak tahu, atau plin-plan.
Siapa sebenarnya Nasr Hamid Abu Zayd? Ia orang Mesir asli, lahir di Tantra, 7 Oktober 1943. Pendidikan tinggi, dari S1 sampai S3, jurusan sastra Arab, diselesaikannya di universitas Cairo, tempatnya mengabdi sebagai dosen sejak 1972. Namun ia pernah tinggal di Amerika selama dua tahun (1978-1980), saat memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania, Philadelphia. Karena itu ia menguasai bahasa Inggris lisan maupun tulisan. Ia juga pernah menjadi dosen tamu di universitas Osaka, Jepang. Di sana ia mengajar bahasa Arab selama empat tahun (Maret 1985-Juli 1989). Karya tulisnya yang telah diterbitkan antara lain: [1] “Rasionalisme dalam Tafsir: Studi Konsep Metafor menurut Mu’tazilah” (al-Ittijah al-‘Aqliy fi-t Tafsir: Dirasah fi Mafhum al-Majaz ‘inda al-Mu’tazilah. Beirut 1982), [2] “Filsafat Hermeneutika: Studi Hermeneutika al-Qur’an menurut Muhyiddin ibn ‘Arabi” (Falsafat at-Ta’wil: Dirasah fi Ta’wil al-Qur’an ‘inda Muhyiddin ibn ‘Arabi. Beirut, 1983), [3] “Konsep Teks: Studi Ulumul Qur’an” (Mafhum an-Nashsh: Dirasah fi ‘Ulum al-Qur’an. Cairo, 1987), [4] “Problematika Pembacaan dan Mekanisme Hermeneutik” (Isykaliyyat al-Qira’ah wa Aliyyat at-Ta’wil. Cairo, 1992), [5] “Kritik Wacana Agama” (Naqd al-Khithab ad-Diniy. 1992) dan [6] “Imam Syafi’i dan Peletakkan Dasar Ideologi Tengah” (al-Imam asy-Syafi’i wa Ta’sis Aidulujiyyat al-Wasathiyyah. Cairo, 1992). Kecuali nomor satu dan dua, yang berasal dari tesis master dan doktoralnya, tulisan-tulisan Abu Zayd telah memicu kontroversi dan berbuntut panjang.
Ceritanya bermula di bulan Mei 1992. Abu Zayd mengajukan promosi untuk menjadi guru besar di fakultas sastra universitas Cairo. Beserta berkas yang diperlukan ia melampirkan semua karya tulisnya yang sudah diterbitkan. Enam bulan kemudian, 3 Desember 1992, keluar keputusannya: promosi ditolak. Abu Zayd tidak layak menjadi profesor, karya-karyanya dinilai kurang bermutu bahkan menyimpang dan merusak karena isinya melecehkan ajaran Islam, menghina Rasulullah Saw, meremehkan al-Qur’an dan menghina para ulama salaf. Abu Zayd tidak bisa menerima dan protes.
Beberapa bulan kemudian, pada hari jum’at 2 April 1993, Profesor Abdushshabur Syahin, yang juga salah seorang anggota tim penilai, dalam khotbahnya di Mesjid ‘Amru bin ‘Ash, menyatakan Abu Zayd murtad.
Pernyataan Ustadz Syahin diikuti oleh para khatib di mesjid-mesjid pada hari jum’at berikutnya. Mesir pun heboh. Harian al-Liwa’ al-Islami dalam editorialnya 15 April 1993 mendesak pihak universitas Cairo agar Abu Zayd segera dipecat karena dikhawatirkan akan meracuni para mahasiswa dengan pikiran-pikirannya yang sesat dan menyesatkan. Pada 10 Juni 1993 sejumlah pengacara, dipimpin oleh M. Samida Abdushshamad, memperkarakan Abu Zayd ke pengadilan Giza. Pengadilan membatalkan tuntutan mereka pada 27 Januari 1994. Namun di tingkat banding tuntutan mereka dikabulkan. Pada 14 Juni 1995, dua minggu setelah universitas Cairo mengeluarkan surat pengangkatannya sebagai profesor, keputusan Mahkamah al-Isti’naf Cairo menyatakan Abu Zayd telah keluar dari Islam alias murtad dan, karena itu, perkawinannya dibatalkan. Ia diharuskan bercerai dari istrinya (Dr. Ebtehal Yunis), karena seorang yang murtad tidak boleh menikahi wanita muslimah. Abu Zayd mengajukan banding. Sementara itu, Front Ulama al-Azhar yang beranggotakan 2000 alim ulama, meminta Pemerintah turun tangan: Abu Zayd mesti disuruh bertaubat atau-kalau yang bersangkutan tidak mau-maka ia harus dikenakan hukuman mati. Tidak lama kemudian, 23 Juli 1995, bersama istrinya, Abu Zayd terbang melarikan diri ke Madrid, Spanyol, sebelum akhirnya menetap di Leiden, Belanda, sejak 2 Oktober 1995 sampai sekarang. Mahkamah Agung Mesir pada 5 Agustus 1996 mengeluarkan keputusan yang sama: Abu Zayd dinyatakan murtad dan perkawinannya dibatalkan. Dalam putusan tersebut, kesalahan-kesalahan Abu Zayd disimpulkan sebagai berikut:
1. Berpendapat dan mengatakan bahwa perkara-perkara ghaib yang disebut dalam al-Qur’an seperti ‘arasy, malaikat, syaitan, jinn, surga dan neraka adalah mitos belaka.
2. Berpendapat dan mengatakan bahwa al-Qur’an adalah produk budaya (muntaj tsaqafi), dan karenanya mengingkari status azali al-Qur’an sebagai Kalamullah yang telah ada dalam al-Lawh al-Mahfuz.
3. Berpendapat dan mengatakan bahwa al-Qur’an adalah teks linguistik (nashsh lughawi) [Ini sama dengan mengatakan bahwa Rasulullah Saw telah berdusta dalam menyampaikan wahyu dan al-Qur’an adalah karangan beliau].
4. Berpendapat dan mengatakan bahwa ilmu-ilmu al-Qur’an (‘ulum al-Qur’an), adalah “tradisi reaktioner” serta berpendapat dan mengatakan bahwa Syari’ah adalah
faktor penyebab kemunduran Umat Islam.
5. Berpendapat dan mengatakan bahwa iman kepada perkara-perkara ghaib merupakan indikator akal yang larut dalam mitos.
6. Berpendapat dan mengatakan bahwa Islam adalah agama Arab, dan karenanya mengingkari statusnya sebagai agama universal bagi seluruh umat manusia.
7. Berpendapat dan mengatakan bahwa teks al-Qur’an yang ada merupakan versi Quraisy dan itu sengaja demi mempertahankan supremasi suku Quraisy.
8. Mengingkari otentisitas Sunnah Rasulullah Saw.
9. Mengingkari dan mengajak orang keluar dari otoritas “teks-teks agama” [maksudnya: al-Qur’an dan Hadits].
10. Berpendapat dan mengatakan bahwa patuh dan tunduk kepada teks-teks agama adalah salah satu bentuk perbudakan.
Reaksi pro dan kontra bermunculan, dari kalangan intelektual maupun aktivis HAM. Pelbagai media di Barat kontan mengecam keputusan tersebut seraya memihak dan membela Abu Zayd. Opini dunia digiring supaya terkesan seolah-olah Abu Zayd telah dizalimi dan ditindas, bahwa hak asasinya dirampas, bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi telah dipasung.
The Middle East Studies Association of North America, misalnya, melalui Komite Kebebasan Akademisnya melayangkan surat keprihatinan kepada Presiden Mesir, Husni Mubarak. Namun keputusan tersebut sudah final, tidak dapat diganggu-gugat dan dicabut lagi.
Menariknya, kalau di Mesir Abu Zayd dikafirkan, di Belanda ia justru mendapat sambutan hangat dan perlakuan istimewa. Rijksuniversiteit Leiden langsung merekrutnya sebagai dosen sejak kedatangannya (1995) sampai sekarang. Ia bahkan diberi kesempatan dan kehormatan untuk menduduki the Cleveringa Chair in Law Responsibility, Freedom of Religion and Conscience, kursi profesor prestisius di universitas itu. Tidak lama kemudian, Institute of Advanced Studies (Wissenschaftskolleg) Berlin mengangkatnya sebagai Bucerius/ZEIT Fellow untuk projek Hermeneutika Yahudi dan Islam. Pihak Amerika tidak mau ketinggalan. Pada 8 Juni 2002, the Franklin and Eleanor Roosevelt Institute menganugrahkan “the Freedom of Worship Medal’  kepada Abu Zayd sebagai penghargaan atas segala yang telah ia lakukan selama ini. Lembaga Amerika ini menyanjung Abu Zayd terutama karena pikiran-pikiranya yang dinilai ‘berani’ dan ‘bebas’ (courageous independence of thought) serta sikapnya yang apresiatif terhadap tradisi falsafah dan agama Kristen, modernisme dan humanisme Eropa.
Sambutan dan perlakuan istimewa dari kalangan akademis Barat kepada Abu Zayd tidak mengherankan, mengingat pihak pemberi adalah non-Muslim yang anti Islam, sedangkan pihak penerima adalah orang yang telah divonis keluar dari Islam. Juga wajar kalau pikiran-pikiran Abu Zayd ditolak oleh kaum Muslimin di Mesir. Yang mengherankan justru ketika tokoh ini diundang dan disambut meriah di Indonesia, negeri yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, dan ketika gagasan-gagasan liarnya diadopsi dan dipropagandakan secara besar-besaran, buku-bukunya diterjemahkan, lokakarya dan seminar digelar mengenai ide-idenya. Dan memang dari mahasiswa sampai kalangan cendekiawan tidak sedikit yang kagum dan gandrung pada pemikirannya, tak terkecuali Prof. Dr. M. Amin Abdullah. Dalam sebuah wawancara dengan JIL, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu mengaku cukup
tertarik dengan karya-karya Abu Zayd seperti Naqd al-Khithab ad-Dini yang dinilainya cocok untuk dibahas (diajarkan?) di lingkungan IAIN atau PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam). Pak Amin dan cendekiawan lainnya di tanah air nampaknya lupa atau sengaja menganggap sepi keputusan Mahkamah Agung Mesir, menganggap keputusan tersebut berlatarbelakang politik dan karenanya tidak valid secara akademis. Padahal, keputusan hukum tersebut diambil berdasarkan fakta-fakta dan hasil kesimpulan penelitian tim dan saksi ahli yang pakar di bidangnya. Jadi keputusan tersebut sah dan mengikat (valid and binding) baik secara hukum maupun secara akademis. Lebih jauh dari itu, karena dicapai melalui prosedur ilmiah, musyawarah dan kesepakatan para ahli (ulama) di bidangnya, maka keputusan tersebut sesungguhnya merupakan ijma’, bukan lagi pendapat pribadi. Dan itu diperkuat dengan pernyataan sikap alim ulama yang tergabung dalam Jabhat Ulama al-Azhar.
Sebenarnya Abu Zayd masih punya pilihan. Pertama, bertaubat seraya mencabut dan menarik kembali semua pernyataannya, dan kedua, bersikeras dengan posisinya dan mempertahankan semua pendapat dan keyakinannya yang ‘nyleneh’ itu. Namun ia lebih memilih yang kedua, meskipun dengan harga mahal: ia terpaksa melarikan diri dan hidup dalam depresi. Dalam autobiografinya yang baru diterbitkan, Voice of an Exile: Reflections on Islam (Westport, Connecticut/London: Praeger, 2004), Abu Zayd ‘blak-blakan’ mengungkapkan latarbelakang dan sumber inspirasinya. Berikut ini cuplikannya.
Abu Zayd mengakui pengalamannya belajar di Amerika ternyata membuahkan hasil. Di sanalah ia mengenal dan mempelajari filsafat dan hermeneutika. Baginya, hermeneutika adalah ilmu baru yang telah membuka matanya: “My academic experience in the (United) States turned out to be quite fruitful. I did a lot of reading on my own, especially in the fields of philosophy and hermeneutics. Hermeneutics, the science of interpreting texts, opened up a brand-new world for me” (hlm.95).
Seperti anak kecil yang baru dapat pistol mainan, ia segera mencari sasaran tembak di sekitarnya. Kalau pisau hermeneutika bisa dipakai untuk membedah Bibel, mengapa tidak kita gunakan untuk mengupas al-Qur’an. Toh keduanya sama, sama-sama kitab suci. Demikian logika Abu Zayd, Para sarjana Barat (Yahudi maupun Kristen) sejak lama telah menerapkan metode-metode kritis dalam mengkaji Bibel, seperti metode textual criticism, source criticism, form criticism, dan sebagainya. Kenapa tidak kita terapkan dalam mengkaji al-Qur’an?, pikir Abu Zayd. Sebagaimana Bibel, al-Qur’an kan juga produk budaya setempat yang tidak terlepas dari konteks masyarakat, sejarah dan zaman dimana ia lahir dan berkembang. Di situ tentu ada campur-tangan manusia. Berkata Abu Zayd: “Classical Islamic thought believes the Qur’an existed before it was revealed. I argue that the Qur’an is a cultural product that takes its shape from a particular time in history. The historicity of the Qur’an implies that the text is human. Because the text is grounded in history, I can interpret and understand that text. We should not be afraid to apply all the tools at our disposal in order to get at the meaning of the text.” (hlm.99)
Dengan menganggap al-Qur’an sama dengan Bibel, Abu Zayd lantas menurunkan status al-Qur’an sebagai Kalamullah. Baginya, al-Qur’an adalah sebuah teks, tidak lebih dari itu. Statusnya, menurut Abu Zayd, sama dengan buku-buku lainnya, yang dikarang oleh manusia, terbentuk dalam konteks budaya dan sejarah, dan sebagai wacana, tidak memiliki makna yang tetap dan baku: “The divine text became a human text at the moment it was revealed to Muhammad. How else could human beings understand it? Once it is in human form, a text becomes governed by the principles of mutability or change. The text becomes a book like any other. Religious texts are essentially linguistic texts. They belong to a specific culture and are produced within that historical setting. The Qur’an is a historical discourse-it has no fixed, intrinsic meaning.” (hlm.97).
Pendapat-pendapatnya mengenai hermeneutika, tekstualitas dan historisitas al-Qur’an ini diakuinya adalah ‘oleh-oleh’ hasil mukimnya di Amerika: “I owe much of my understanding of hermeneutics to opportunities offered me during my brief sojourn in the United States.” (hlm.101).
Orang macam Abu Zayd ini cukup banyak. Ia jatuh ke dalam lubang rasionalisme yang digalinya sendiri. Ia seperti istrinya Aladdin, menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh si tukang sihir. Semoga kita mendapatkan petunjuk seperti Nabi Ibrahim: fa-lammaa afala, qaala laa uhibbul aafiliin.
 
Oleh Dr. Syamsuddin Arief..

 

 

Bila Aq Jatuh Cinta
18 Maret 2010

Allahu Rabbi
Aku minta izin..
Bila suatu saat aku jatuh cinta..
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang..
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau..

Allahu Rabbi
Aku punya pinta..
Bila suatu saat aku jatuh cinta..
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas..
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh..
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta..
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu..
dan membuatku semakin mengagumi-Mu..
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati..
Pertemukanlah kami..
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu..
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati..
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku..
Anugerahkanlah aku cinta-Mu…
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu..
Amiin.
(Abu Aufa)

 

Manaje Waktu
17 Maret 2010

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيما أفناه وعن علمه فيما فعل به و عن ماله من أين اكتسبه وعن جسمه فيما أبلاه"
Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana dia amalkan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya bagaimana dia memanfaatkanya.” (HR. at-Tirmidzi, dan menurut beliau derajatnya hasan shahih)
Siapakah yang bertanya dalam hadits ini? Dia adalah Allah Subhanahu wa Taala Rabb/Tuhan semesta alam, pada hari di mana seseorang tidak bisa memberi manfaat kepada selainnya dan keputusan hari itu hanya ada di tangan Allah Subhanahu wa Taala. Apakah sudah engakau persiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan diatas?
Benar, kita akan ditanya pada hari kiamat tentang perkara-perkara di atas, dan yang paling penting adalah tentang umur kita yang itu adalah rangkaian dari menit-menit dan detik-detik, yang nafas-nafas kita berhembus dan tidak mungkin akan terulang. Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah bahwa dia berkata:

ما من يوم ينشق فجره إلا وينادى يا ابن آدم أنا خلق جديد وعلى عملك شهيد فتزود منى فإني إذا مضيت لا أعود إلى يوم القيامة
Tidak ada suatu hari yang fajar terbit pada hari itu kecuali dia akan berseru:”Wahai anak Adam sesungguhnya aku adalah makhluk baru, aku akan menjadi saksi terhadap amalan-amalanmu, maka berbekalah dariku, karena sesungguhnya apabila aku telah berlau, aku tidak akan kembali sampai hari kiamat.
Beliau juga berkata:

أدركت أقواما كان أحدهم أشح على عمره منه على درهمه
Aku pernah bertemu dengan suatu kaum yang salah seorang di antara mereka lebih kikir terhadap umurnya dibandingkan kikir mereka terhadap dirham (harta) mereka
Beliau juga berkata:

إنما أنت أيام مجموعة كلما مضى يوم مضى بعضك
Seungguhnya kalian adalah kumpulan/rangkaian (hari-hari). Apabila berlalu satu hari maka hilanglah sebagianmu
Beliau juga berkata:

ما أطال عبد الأمل إلا أساء العمل
Tidaklah seseorang panjang angan-angan kecuali dia akan berbuat keburukan

• عن ابن مسعود قال :ما ندمت على شيء ندمى على يوم غربت شمسه نقص فيه أجلى ولم يزد فيه عملي
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:”Tidaklah aku menyesal melebihi penyesalanku terhadap suatu hari di mana matahari terbit di dalamnya dan berkurang umurku akan tetapi tidak bertambah amalanku (kebaikan).”

وقيل للإمام أحمد رحمه الله :كيف أصبحت ؟ فقال :في عمر ينقص وذنوب تزيد
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya:”Bagaimana engkau memasuki waktu pagi?”Maka beliau menjawab:”Umurku berkurang sementara dosaku bertambah.”
Dan para salaf berkata:

من علامة المقت إضاعة الوقت و كانوا يحرصون كل الحرص على ألا يمر يوم أو بعض يوم دون أن يتزودوا منها بعلم نافع أو عمل صالح حتى لا تتسرب الأعمار سدى و تضيع هباء
Termasuk salah satu tanda hamba dibenci Allah adalah dia menyia-nyiakan waktu.” Dan mereka (para salaf) sangat bersungguh-sungguh untuk tidak melewatkan satu hari atau sebagian hari tanpa membekali diri mereka dari hari itu dengan ilmu yang bermanfaat atau amalan shalih, supaya tidak berlalu (habis) umur mereka dengan sia-sia dan terbuang dengan percuma.
Maka wajib bagi engkau wahai saudaraku untuk mengoreksi dan intropeksi diri……Bagaimana engkau menghabiskan waktumu???? Sesunguhnya manusia adalah kumpulan waktu yang ia hidup di dalamnya, apabila dia menyia-nyiakannya maka di atelah menyia-nyiakan dirinya. Betapa banyak kita menyia-nyiakan umur kita tanpa ada tambahan ilmu, amal dan tanpa ada penyesalan
Cara Memanfaatkan Waktu
Lalu apa kewajiban kita terhadap umur kita, supaya kita termasuk orang-orang yang menyesal pada hari kiamat? Kewajiban kita terhadap umur kita (waktu) adalah sebagai berikut:
1. Menjaganya seperti kita harta kita, bahkan lebih sungguh-sungguh lagi dalam menjaganya, yaitu dengan bersungguh-sungguh mengambil faidah darinya dalam hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akherat. Dan para ulama terdahulu (salaf) adalah orang yang paling semangat dalam menjaga waktu dan mereka adalah orang yang paling tahu tentang nilai waktu. Mereka tidak akan membiarkan waktu berlalu walaupu sekejap, tanpa mengambil bekal darinya dengan ilmu yang bermanfaat, amal, shalih mujahadah, atau memberikan manfaat kepada orang lain supaya tidak berlalu (habis) umur mereka dengan sia-sia dan terbuang dengan percuma. Mereka tidak pernah berpikiran bahwa: sekarang kita berbuat sesuka dan semau kita……..dan besok mati dan pena (catatan amal) telah diangkat.
2. Memanfaatkannya dengan sesuatu yahg paling penting kemudian yang penting, jangan sibuk dengan sesuatu yang rendah dan tidak bermanfaat dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat (menggunakan skala prioritas)
3. Menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu mubah, karena hal itu akan menyebabkan kita menyia-nyiakan waktu, kalau kita melakukannya tidak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala. Karena hal yang mubah/boleh bisa menjadi ibadah kalau diniatkan karena Allah.
4. Menjadikan berlalunya siang dan malam sebagai pelajaran, karena sesungguhnya siang dan malam yang bergantian adalah makhluk yang baru dan keduanya telah melipat umur kita.
5. bersungguh-sungguh untuk mendapatkan waktu yang telah Allah istimewakan dengan kekhususan-kekhususan tertentu dari waktu-wqaktu yang lain, sebagaimana Allah Subhanahu wa Taala mengistimewakan tempat-tempat tertentu dibandingkan yang lainnya dan mengistimewakan hari tertentu dari yang lainnya, bulan tertentu dari yang lainnya, seperti Ramadhan diistimewkan oleh Allah dar bulan-bulan yang lainnya. Maka manfaatkanlah bulan atau waktu-waktu itu dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Taala. Dan jangan engkau jadikan bulan atau waktu-waktu yang penuh berkah ini berlalu sebagaimana waktu-waktu atau bulan lain.
6. Menghindari dan mewaspadai hal-hal yang menjadi perusak waktu, yang paling berbahaya adalah panjang angan-angan di dunia dan tertipu dengan amalan-amalannya (merasa amal shalihnya telah banyak), berprasangka baik dengan dirinya, teman yang buruk, kelalaian dan menunda-nunda amalan baik.
7. Termasuk hak umurmu yang harus ditunaikan adalah supaya engkau memakmurkan dan mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat dari ilmu dan amal yang shalih. Jangan engkau menundanya sampai besok. Menanamlah hari ini untuk engkau panen esok hari, kalau tidak maka engkau akan menyesal di hari di mana tidak bermanfaat lagi penyesalan pada hari itu.
Seorang penyair berkata:
تزود من التـقـوى فإنك لا تـدري ...........إذا جنَّ ليـل هل تعيـش إلى الفـجـر
فكم من سـليم مـات من غير عـلة ...........و كم من سقيم عاش حيناً من الدهر
و كم من فتى يمسي و يصبح آمناً ...........و قد نسجت أكفانه و هو لا يـدري

Berbekalah dengan ketakwaan karena engkau tidak tahu
Apabila malam telah gelap apakah engakau akan hidup esok hari
Betapa banyak orang yang sehat meningal tanpa didahului sakit
Dan betapa banyak orang yang sakit ternyata hidup lama
Betapa banyak seorang pemuda sore dan pagi harinya dalam kondisi aman
Padahal kain kafannya telah digunting dan dia tidak mengetahuinya

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:”Keuntungan terbesar di dunia adalah engkau menyibukkan dirimu setiap saat dengan sesuatu yang paling utama dan bermanfaat untuk kehidupan akherat. Bagaimana dikatakan berakal seseorang yang menjual Surga dan kenikmatan di dalamnya dengan syahwat (kesenangan dunia) yang hanya sesaat.”

Beliau juga berkata: Menyia-nyiakan waktu lebih lebih berbahaya dari pada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan akherat, sedangkan kematian memtuskanmu dari dunia dan penghuninya.”  Allahu Al-hadi ila shawab..